kEGIATAN

Selasa, 27 November 2012

Bimbingan dan konseling merupakan komponen penting dalam proses pendidikan, yang didalamnya mencakup pemberian bantuan kepada peserta didik atau konseli dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, agar setiap peserta didik atau konseli dapat berkembang sesuai dengan tugas perkembangannya secara optimal. Wujud atau implementasi dari pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah berupa pelayanan bimbingan dan konseling yang tepat untuk peserta didik. Untuk dapat memberikan pelayanan bimbingan dan konseling yang tepat Guru BK atau konselor harus mengetahui keadaan dan perkembangan peserta didik secara mendalam. Dalam bab pendahuluan dinyatakan bahwa tugas seorang guru BK atau konselor adalah membantu peserta didik mengatasi permasalahan dan hambatan yang menjadikan peserta didik tidak dapat berkembang sesuai dengan tugas perkembangnnya secara optimal. Masalah yang menghambat tugas-tugas perkembangn peserta didik akan sangat bervariatif, baik yang barkaitan dengan masalah pribadi, sosial, belajar, atau karier. Oleh karena keterbatasan kematangan peserta didik dalam mengenali dan memahami hambatan dan permasalahan yang dihadapi peserta didik, maka perlu dilakukan upaya intervensi oleh pihak yang berkompeten, yang dalam hal ini adalah guru BK atau konselor. Guru BK atau konselor diharapkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi peserta didiknya secara mendalam. Untuk mengetahui kondisi dan keadaan peserta didik banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus (Case Study). Dalam materi ini akan dibahas tentang : (1) pengertian studi kasus, (2) data dalam studi kasus, dan (3) tahap-tahap studi kasus 1. Konsep Dasar Studi Kasus a. Pengertian Studi Kasus Secara harfiah studi kasus terdiri dua kata, yaitu studi dan kasus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, makna kata studi adalah kajian, telaah, penelitian, penyelidikan ilmiah. Sedangkan makna kata kasus adalah sebagai berikut: (1). soal, perkara, keadaan sebenarnya suatu urusan atau perkara, keadaan atau kondisi khusus yang berhubungan dengan seseorang atau suatu hal; dan (2). katagori gramatikal dari nomina, pronomina, atau ajektiva yang menunjukan hubungannya dengan kata lain dalam kontruksi sintaksis. Dari paduan kedua kata studi dan kasus dapat disimpulkan bahwa makna kata studi kasus adalah: pendekatan untuk meneliti gejala sosial dengan menganalisis satu kasus secara mendalam dan utuh. Istilah studi kasus dalam Nineth New Collegiate Dictionary (1987) diartikan sebagai berikut: (1). an intensive analysis of an individual unit (as a person or community), (2). case history. Dalam literatur bimbingan dan konseling yang berbahasa Inggris dikenal istilah case history di samping case study yang makna kedua istilah tersebut berbeda. Strang dan Traxler menggambarkan case history sebagai suatu sintesis tentang informasi yang dibuat secara periodik yang sifatnya lebih rinci dari catatan kumulatif. Mereka ini menggambarkan bahwa case study ialah suatu analisa intensive yang mencakup interprestasi dan difokuskan pada problem atau kesulitan penyesuaian sosial seorang. Tetapi Murray dan Thorne (1938) mengemukakan bahwa istilah case history dimaksudkan unuk suatu teknik atau studi tentang individu secara komprehensif, studi tentang latar belakang lingkungan, hubungan antar pribadi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan penyesuaian. Pengertian tentang studi kasus (case study) dalam kamus psikologi (Kartono dan Gulo, 2000) menyebutkan ada dua pengertian yaitu: (1). Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan satu gejala psikologis tunggal., (2). Studi kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi. Terdapat istilah yang berkaitan dengan case study yaitu case history atau disebut riwayat kasus, sejarah kasus. Case history merupakan data yang terimpun yang merekonstruksikan masa lampau seorang individu, dengan tujuan agar orang dapat memahami kesulitan-kesulitannya yang sekarang serta menolongnya dalam usaha penyesuaian diri (adjustment). Berikut ini definisi studi kasus dari beberapa pakar dalam Psikologi dan Bimbingan Konseling: 1) Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (I.Djumhur, 1985). 2) Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang peserta didik secara mendalam dengan tujuan membantu peserta didik untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. (WS. Winkel, 1995). 3) Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integratif dan komprehensif. Integratif artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap. (Dewa Ketut Sukardi, 1983). 4) Studi kasus (case study) adalah suatau metode untuk menyelidiki atau mempelajri sesuatu kejadian mengenai perseorangan (riwayat hidup). (Bimo Walgito, 2004) Studi kasus merupakan teknik yang paling tepat digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling karena sifatnya yang komprehensif dan menyeluruh. Studi kasus menggunakan hasil dari bermacam-macam teknik dan alat untuk mengenal peserta didik sebaik mungkin, merakit dan mengkoordinasikan data yang bermanfaat yang dikumpulkan melalui berbagai alat. Data itu meliputi studi yang hati-hati dan interpretasi data yang berhubungan dan bertalian dengan perkembangan dan problema serta rekomendasi yang tepat. Jadi berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa studi kasus adalah suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. Bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri/karakteristik berbagai jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok. Analisa itu mencakup aspek-aspek kasus seperti jenis, keluasan dan kedalaman permasalahannya, latar belakang masalah (diagnosis) dan latar depan (prognosis), lingkungan dan kondisi individu/kelompok dan upaya memotivasi terungkapnya masalah kepada guru BK atau konselor sebagai orang yang mengkaji kasus. Data yang telah didapatkan oleh konselor kemudian dinvertaris dan diolah sedemikian rupa hingga mudah untuk diinterpretasi masalah dan hambatan individu dalam penyesuaiannya. b. Tujuan Studi Kasus Studi Kasus diadakan untuk memahami peserta didik sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. Kemudian dari pemahaman dari peserta didik yang mendalam, konselor dapat membantu peserta didik untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. Dengan penyesuian pada diri sendiri serta lingkungannya, sehingga peserta didik dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan bagi peserta didik tersebut. c. Sasaran Studi kasus Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. biasanya sasaran studi kasus adalah peserta didik yang mempunyai suatu problem (problem case); atau dengan kata lain sasaran studi kasus adalah individu (seorang peserta didik) dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental, yang membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik. 2. Data dalam Studi Kasus a. Ciri-ciri Studi kasus Metode Studi kasus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) Mengumpulkan data yang lengkap; studi kasus memerlukan data yang komprehensif dari setiap aspek kehidupan peserta didik. Data yang lengkap sangat menentukan identifikasi dan analisis masalah. Apabila data tidak lengkap dan terjadi kesalahan dalam identifikasi dan analsis masalah maka besar kemungkinan terjadi salah penanganan (treatment) dan bahkan dapat terjadi malpraktik. 2) Bersifat rahasia ; studi kasus tidak dapat dipisahkan dari bimbingan dan konseling, maka salah satu kode etik dalam konseling yaitu asas kerahasiaan. Asas kerahasiaan sangat penting untuk menjaga kepercayaan konseli (baca : peserta didik). Disisi lain, sangat mungkin informasi yang diperoleh belum pasti apa adanya, maka sangat berbahaya apabila informasi tersebut tersebar dan timbul salah persepsi kepada individu dari berbagai pihak. Dan hendaknya hanya guru BK atau konselor yang menangani dan pihak-pihak yang dianggap perlu mengetahui keadaan konseli sebenarnya. 3) Dilakukan secara terus menerus (kontinyu): studi kasus juga merupakan proses memahami perkembangan peserta didik, maka perlu dilakukan pemahaman secara terus menerus sehingga terbentuk gambaran individu yang obyektif dalam berbagai segi kehidupan individu yang berpengaruh pada masalah yang dihadapinya. 4) Pengumpulan data dilakukan secara ilmiah: studi kasus harus bisa dipertanggung jawabkan secara rasional dan obyektif. Maka pengumpulan data juga harus dilakukan secara ilmiah dengan mengacu kaedah-kaedah yang rasional dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaran dan validitasnya. 5) Data yang diperoleh dari berbagai pihak : Data yang dikumpulkan dalam studi kasus haruslah relevan dengan permasalahan yang dihadapi peserta didik. Pengumpulan data tentang peserta didik yang bermasalah didapatkan dari berbagai pihak yang berhubungan dengan peserta didik tersebut. Untuk memilih pihak sumber informasi perlu mengingat hubungan orang tersebut apakah dekat/mempengaruhi dalam permasalahan peserta didik, mempunyai informasi yang dapat dipertanggung jawabkan yang bukan berdasarkan gosip, rumor atau kabar burung, mempunyai informasi yang relevan dengan permasalahan individu b. Alat / Metode Pengumpulan data dalam studi kasus Terdapat banyak metode yang dapat dipakai dalam mengumpulkan data untuk kepentingan identifikasi masalah peserta didik, sebagai berikut ; 1) kartu pribadi 2) angket 3) wawancara informatif 4) buku rapor 5) home visit 6) testing 7) rating scale 8) otobiografi 9) sosiometri 10) studi dokumentasi 11) Daftar Cek Masalah (DCM) Karena di kebanyakan sekolah pelayanan Bimbingan dan Konseling baru mulai dikembangkan, dan alat pengumpulan data dan pengumpulan data tidak mungkin diadakan secara serentak, tidak mungkin dan bijaksana untuk mulai menggunakan alat-alat itu sekaligus. Maka ditentukan prioritas teknik yang dapat dipakai secara efektif dan efisien. c. Data yang dikumpulkan dalam Studi Kasus Data yang dikumpulkan dalam studi kasus adalah sebagai berikut: 1) identitas diri 2) latar belakang keluarga 3) lingkungan hidup (social ekonomi) 4) riwayat pertumbuhan dan perkembangan 5) riwayat kesehatan 6) testing dalam berbagai bidang 7) riwayat pendidikan sekolah 8) pola kesusilaan dan keyakinan hidup 9) riwayat pelanggaran hidup 10) pergaulan dengan teman-teman. 11) Langkah-langkah dalam Studi kasus 12) perencanaan 13) pengumpulan data 14) penggunaan dan pengolahan data 15) sintesa dan interpetasi data 16) membuat perencanaan pelaksanaan pertolongan 17) evaluasi dan follow up d. Bagian-bagian Studi Kasus Studi kasus sebagai metode untuk mengadakan persiapan konseling dapat kita lihat adannya bermacam-macam bagian, yaitu : 1) data identitas (data pengenal) 2) tanda-tanda atau gejala yang nampak 3) data-data disekitar klien; 4) latar belakang keluarga (family background) antara lain; 5) lingkungan rumah 6) hubungan antar keluarga 7) disiplin dalam rumah 8) status perkenomian keluarga 9) bagaimana pola asuh orang tua, dan sikap anak kepada orang tua. 10) Latar belakang jasmani dan kesehatan anak, antara lain ; 11) kesehatan anak pada umumnya 12) ciri-ciri jasmani 13) keadaan alat indera pada umumnya 14) keadaan physical defect (jika ada) 15) Data mengenai pendidikan 16) hasil kemampuan belajar (record) di sekolah 17) kemajuan dan kemunduran di sekolah 18) kemampuan mengikuti pelajaran, dsb 19) Social Behavior dan minatnya: 20) hobinya 21) hubungan sosialnya 22) kepercayaan kepada diri sendiri 23) inisiatifnya, dsb 24) Data Psycho Test (Kejiwaan) : 25) perhatiannya 26) bakatnya 27) achievementnya, dsb Contoh data dan metode Pengumpulan data Data yang dikumpulkan melalui beberapa metode, yang terangkum sebagaimana table bawah ini; Tabel:2.1: data dan metode Pengumpulan data No. Jenis Data Alat/Metode Pengumpulan Data 1. Latar Belakang Keluarga Kuisoner, Wawancara Informatif, Home Visit, Otobiografi 2. Riwayat Sekolah Kuisoner, Wawancara Informatif, Otobiografi, Studi Dokumentasi 3. Hasil Belajar Tes Hasil Belajar, Studi Dokumentasi (Raport) 4. Kemampuan Intelektual Tes Intelegensi, Studi Dokumentasi (rapor) 5. Bakat Khusus Tes Bakat Khusus, Wawancara Informatif (buku rapor) 6. Minat Tes Minat, Kuisoner, wawancara informative 7. Kesehatan Jasmani Kuisoner, wawancara informative, home visit, studi dokumentasi 8. Sikap/Sifat Kepribadian Anekdota, rating scale, sosiometri, otobiografi, tes kepribadian 9. Rencana Hari Depam Kuisoner, wawancara informative, otobiografi Setiap masalah yang dialami oleh peserta didik terdapat gejala yang mengiringinya. Gejala bukanlah masalah intinya namun adalah perilaku menyimpang yang mengindikasikan bahwa seseorang mengalami masalah. Berikut ini merupakan contoh kasus, yang dapat ditangkap gejala yang menunjukan masalah bagi peserta didik. 3. Tahap – tahap Studi Kasus Dalam Pelaksanaan studi kasus ada beberapa tahapan yang harus dilakukan yaitu : a. Analisis. Analisis adalah merupakan langkah untuk mengumpulkan informasi tentang diri anak beserta latar belakangnya.Hal itu bertujuan untuk memperoleh pemehamantentang diri anak dalam berhubungan dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh penyesuaian diri baik untuk masa sekarang maupun masa yang akandatang.Untuk mendapatkan data yang sebanyak-banyaknya dan dapat dipertanggungjawabkan, maka guru mnenggunakan bermacam-macam metode diantaranya dengan menggunakan angket, observasi, wawancara,dan lainnya. b. Sintesis. Sintesis adalah usaha untuk merangkum, menggolongkan dan menghubungkan data yang diperoleh dalam tahap analisis. Dengan demikian dapat menunjukkan keseluruhan gambaran tentang diri anak, rumusan ini bersifat ringkas dan padat. c. Diagnosis. Diagnosis merupakan tahap menginterpretasikan data dari suatu masalah yang dihadapi. Rumusan diagnosis dilakukan melalui proses pengambilan atau penarikan kesimpulan yang logis. d. Prognosis. Prognosis adalah langkah yang ditempuh untuk menetapkan jenis atau tehnik bantuan yang diberikan kepada anak didik serta memprediksi kemungkinanyang akan timbul oleh anak sehubungan dengan masalah yangsedang dialami. e. Treatment. Tahap ini merupakan tahap pengembangan strategi pemecahan masalah dalam konseling.Guru membantu anak menemukan sumber-sumber pada diri anak.Sumber-sumber lembaga dan masyarakat guna membantu anak mencapai penyesuaian yang optimal. Melalui tahap ini guru memberikan alternatif pemecahan masalah dengan tetap mempertimbangkan kelebihan dari setiap alternatif yang mungkin dapat dilakukan. f. Follow Up. Follow up mengacu pada segala kegiatan membantu peserta didik setelah mereka memperoleh layanan konseling, tetapi kemudian menemui masalah baru atau munculnya kembali masalah yang lampau. C. Latihan 1. Diskusikan dan deskripsikan apa yang dimaksud dengan studi kasus,! 2. Diskusikan dan deskripsikan apa yang dimaksud dengan data dalam studi kasus! 3. Diskusikan dan deskripsikan tahap-tahap studi kasus! D. Rangkuman 1. Studi kasus adalah suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. Bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri/karakteristik berbagai jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok. Analisa itu mencakup aspek-aspek kasus seperti jenis, keluasan dan kedalaman permasalahannya, latar belakang masalah (diagnosis) dan latar depan (prognosis), lingkungan dan kondisi individu/kelompok dan upaya memotivasi terungkapnya masalah kepada guru BK atau konselor sebagai orang yang mengkaji kasus. 2. Studi Kasus diadakan untuk memahami peserta didik sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. 3. Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. 4. Tahap-tahap studi kasus : - analisis - sintesis - diagnosis - prognosis - treatment - follow up D. Evaluasi Anda ditugaskan untuk menjawab soal di bawah ini dengan cara memilih salah satu alternative jawaban yang sesuai ! 1. Yang dimaksud dengan studi kasus adalah…. a. Studi komprehensif untuk memahami peserta didik dengan keunikan dan kedalamannya. b. Studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. c. Studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik dalam menyelesaikan masalah sekolah. d. Studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik dalam penyusunan penelitian tindakan sekolah 2. Penyelenggaraan studi kasus ditujukan untuk…. a. Studi Kasus diadakan untuk memahami peserta didik sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. b. Studi Kasus diadakan untuk meningkatkan prestasi peserta didik di seluruh bidang studi. c. Studi Kasus diadakan untuk memahami peserta didik sebagai individu sesuai dengan tugas perkembangannya. d. Studi Kasus diadakan untuk menjaring informasi mengenai peserta didik sebagai pemenuhan administrasi sekolah. 3. Peserta didik yang menjadi sasaran studi kasus adalah peserta didik dengan criteria sebagai berikut : a. seorang peserta didik dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental, yang membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik. b. seorang peserta didik dalam keadaan tidak sehat rohani/ mengalami gangguan mental, yang membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik. c. sasaran studi kasus adalah individu yang berprestasi dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental, yang tidak membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik. d. atau dengan kata lain sasaran studi kasus adalah individu tidak dalam keadaan sehat rohani/ mengalami gangguan mental, yang tidak membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik. 4. Data yang dipergunakan dalam studi kasus, kecuali : a. Identitas diri b. Latar belakang keluarga c. Riwayat pendidikan d. Tanda-tanda atau gejala yang tampak. 5. Dalam penyelenggaraan studi kasus ada beberapa tahap yang harus dilalui, kecuali: a. Analisis b. Sintesis c. Elaborasi d. prognosis F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut. Coba Bapak/Ibu nilai evaluasi yang Bapak/Ibu kejakan dan berapa nilai yang diperoleh. Jika Bapak/Ibu dapat menjawab 5 soal dengan benar maka Bapak/Ibu dianggap menguasai materi diklat ini. Dan jika jawaban benar belum mencapai 4 soal berarti Bapak/Ibu perlu mengulang mempelajari modul ini dengan lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes