kEGIATAN

Kamis, 02 September 2010

I LOVE YOU

Menjadi Orang yang Disukai Orang Lain

Belajar Dari Kasus

Sebetulnya penting nggak sih disukai banyak orang itu? Jawabannya bisa penting dan bisa tidak. Ini tergantung keadaan, alasan, dan konteks. Tetapi, secara umum, naluri dasariyah manusia itu punya kecenderungan untuk ingin disenangi. Buktinya, orang akan merasa bahagia jika dirinya disenangi banyak orang. Sebaliknya, orang akan merasa gelisah atau (minimalnya) kurang bahagia ketika dibenci atau kurang disenangi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana supaya kita termasuk orang yang disengani orang lain? Secara teori memang tidak kita ditemukan tehnik baku untuk itu. Dari praktek hidup, ada petunjuk yang bisa kita tangkap. Salah satunya adalah, manusia itu cenderung kurang menyenangi sifat atau prilaku yang ekstrim (terlalu di tepi atau terlalu) untuk hal-hal yang sifatnya pilihan / bisa dipilih. Tetapi ini tidak semuanya juga. Kalau melihat beberapa kasus yang umum, prilaku atau sifat yang berpotensi mengundang ketidaksenangan itu antara lain:

Pertama, terlalu diam atau terlalu ramai. Idealnya, kita memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara tentang dirinya, tentang pengetahuannya atau tentang pengalamannya. Di samping itu, kita pun perlu memberikan kesempatan untuk mendengarkan. Sehingga yang terjadi adalah dialog untuk saling memberi-menerima atau terjadi percakapan yang hangat. Kehangatan dialog bisa mengundang kesenangan atau kesan yang menyenangkan.

Tapi, jika kita hanya menjadi pendengar yang terlalu diam, pasif, lebih-lebih lagi kurang antusias untuk memberikan tanggapan kepada orang lain, ini berpotensi mengundang ketidaksenangan. Sebaliknya juga begitu. Jika kita yang mendominasi pembicaraan, kita mengungkapkan diri kita panjang lebar, lebih-lebih ditambah dengan sikap yang kurang menunjukkan rasa hormat ketika orang lain mengutarakan dirinya, inipun berpotensi mengundang ketidaksenangan.

Jadi, terlalu diam itu tidak bagus, namun terlalu ramai juga kurang bagus. Terlalu pasif tidak bagus, tetapi terlalu aktif juga tidak bagus. Terlalu diam membuat orang lain boring, tetapi terlalu ramai membuat orang lain merasa tidak nyaman. Menurut teori hubungan, terlalu diam atau terlalu pasif itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang yang abdicraft. Lawannya adalah autocraft, terlalu aktif, terlalu ingin mendominasi, dan seterusnya. Yang disarankan adalah menjadi orang yang demokratik: tidak memaksakan kehendak pribadi, pun juga tidak terlalu pasif dan dingin. Terlalu ramai sering diberi julukan "omdo"(omong doang) atau big mouth (si mulut besar). Sebaliknya, terlalu diam sering diberi julukan "si patung", pengekor, dan lain-lain.

Kedua, terlalu ikut campur atau terlalu cuek. Idealnya, yang dibutuhkan adalah memberikan perhatian (care) atau share feeling (berbagi rasa) pada saat-saat dibutuhkan (empati). Perhatian ini banyak. Bisa dalam bentuk perasaan, sikap atau tindakan. Orang akan merasa lebih dihormati ketika dia tahu kita menaruh empati. Empati adalah peduli yang kita nyatakan dalam berbagai bentuk. Dalam konsep pengembangan-diri, empati termasuk pilar dalam meningkatkan interpersonal skill. Interpersonal skill adalah kemampuan seseorang dalam membuka, menjaga, dan memberdayakan hubungan (dengan orang lain). Ciri-ciri orang yang punya kemampuan bagus di hal ini, antara lain:

Empati: bisa berbagi dan peduli pada orang lain

Mendukung kemajuan orang lain (developing others)

Berkomunikasi secara efektif

Bisa mendengarkan orang lain

Punya komitmen yang tinggi dalam menaati janji atau kesepakata

Bisa menghormati orang lain

- Bisa melihat sisi positif dan negatif secara objektif

Jika empati mengundang kesenangan orang, maka terlalu ikut campur ke dalam wilayah / urusan pribadi orang lain sering dinilai berpotensi mengundang ketidaksenangan. Lebih-lebih jika campur tangan itu dinilai malah menambah masalah (bukan menyelesaikan / mengurangi masalah) atau membuat orang merasa kurang nyaman. Ada sih wilayah tertentu yang diharapkan campur tangan kita. Tetapi biasanya tetap ada limit / pembatas yang sudah dipasang lampu merah yang artinya adalah: jangan terlalu masuk ke dalam. Memang ini jarang diucapkan.

Begitu juga terlalu cuek, terlalu tidak perduli, atau terlalu masa bodoh. Yang lebih sering terjadi, terlalu cuek sama jeleknya dengan terlalu ikut campur. Kalau melihat teori tentang hubungan manusia, terlalu ikut campur itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang-orang yang oversocial. Sebaliknya, terlalu cuek itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang yang undersocial. Baik yang over atau yang under, keduanya sering dinilai kurang bagus. Yang disarankan adalah menjadi inklusif: tidak terlalu cuek dan tidak terlalu ikut campur.

Ketiga, terlalu tertutup atau terlalu terbuka. Idealnya, kita perlu membuat penjelasan-diri tentang hal-hal yang perlu dijelaskan dan perlu tidak menjelaskan hal-hal yang tidak perlu. Apanya yang perlu dan apanya yang tidak perlu? Inipun sulit dijelaskan. Umumnya, yang perlu dan yang tidak perlu itu hanya bisa dipahami oleh perasaan.

Dalam literatur keilmuan dikenal istilah self-disclosure, pengungkapan-diri yang dimaksudkan untuk meningkatkan makna / kualitas hubungan. Self-disclosure ini berbeda dengan self-description (penjelasan-diri). Perbedaan yang paling mendasar adalah, self-disclosure itu merupakan bentuk pengungkapan-diri tentang hal-hal yang signifikan bagi diri sendiri dan bagi orang lain (benar-benar penting untuk membangun hubungan).

Self-diclosure ini bukan saja akan mengundang kesenangan dan keakraban, tetapi malah bisa mengundang kepercayaan (trust). Dalam Psychology & Life (1979) dinyatakan bahwa trust dimulai dari self-diclosure. Jadi, biasanya, dari pengungkapan lahirlah keakraban dan dari keakraban lahirlah kepercayaan. Tapi, katanya, self-disclosure di sini bukan sebatas pada pernyataan mulut (verbal statement of self-diclosure), melainkan serangkaian tindakan yang bisa menjelaskan siapa diri kita. Kalau apa yang kita ucapkan itu berbeda dengan apa yang kita lakukan, bisa-bisa ini malah mengundang ketidaksenangan dan ketidakpercayaan.

Meskipun demikian, terlalu terbuka juga mengundang ketidaksenangan. Apa-apa bilang sama orang lain atau ditunjukkan kepada orang lain sehingga bisa ditafsirkan pamer. Bukan hanya itu, terlalu terbuka juga kerapkali menjadi kelemahan. Untuk membangun keakraban, terlalu terbuka itu seringkali sama jeleknya dengan terlalu tertutup. Terlalu tertutup sangat sering ditafsirkan sebagai upaya untuk menjaga jarak, seperti layaknya minyak dan air. Kalau ini diterapkan kepada orang yang baru kenal tentu baik-baik saja, namun kalau diterapkan pada orang yang sudah lama menjalin hubungan, biasanya ini kurang powerful untuk membangun keakraban.

Tiga poin di atas itu memang baru kasus-kasus umum yang punya ketergantungan pada konteks yang sangat spesifik. Artinya tidak bisa dijeneralisasi. Misalnya saja ada orang yang cerewetnya minta ampun. Untuk orang yang sudah mengenal dan memahami, tentu tidak ada masalah. Tapi untuk situasi baru dan orang baru, bisa saja hasilnya beda.

Dalam prakteknya, senang dan tidak senangnya orang itu lebih sering terkait dengan soal pemahaman dan kesaling-memahami (mutual understanding). Karena itu, banyak orang yang membenci orang lain karena salah paham, kurang paham, atau tidak saling memahami. Begitu juga banyak orang yang menyenangi orang lain karena sudah saling memahami.

PRINSIP & TEORI LIKING & DISLIKING

Dalam teori ilmu pengetahuan, kita bisa temukan banyak penjelasan seputar liking (suka) dan disliking (ketidaksukaan). Dengan melihat ini mudah-mudahan bisa kita gunakan untuk memahami realitas dan bisa pula kita gunakan untuk memperbaikinya. Sebagian d

ANTARA OPTIMIS DAMN BERHARAP

Antara Optimis dan Berharap

Selama ini sebagian besar orang mengartikan harapan dan optimis sebagai dua tema yang sama, atau bisa saling menggantikan. Sebagian lagi menganggap bahwa harapan adalah bagian dari optimis atau sebaliknya.

Jadilah orang yang optimis, jangan pesimis, apakah ini berarti orang yang optimis memiliki harapan? Atau optimis itu sendiri berarti harapan, atau sebaliknya, orang yang memiliki harapan berarti optimis?

Berbicara tentang optimis juga menyeret satu tema lain yang hampir selalu mengikuti, yaitu pesimis. Namun, ketika kita bicara tentang harapan, pesimis tidak selalu mengikuti, berbeda jika membicarakan topik optimis, terma pesimis hampir dipastikan menjadi oposisi penegas.


Harapan

Hope is the sum of the mental willpower and way power that you have for your goal (Snyder, 1994)

Tiga elemen mental dasar dalam harapan, yaitu (1) tujuan (goal), (2) keinginan kuat (willpower), (3) jalan keluar (way power).

Goal is any objects, experiences or outcomes that we imagine and desire in our minds (Snyder, 1994)

Memiliki harapan berarti memiliki goal untuk diraih, dicapai, didapatkan. Tujuan inilah sebagai komponen penting utama dalam sebuah harapan. Sesuatu yang ingin kita dapatkan seperti sebuah rumah di tepi pegunungan, atau prestasi di tempat aktivitas (kampus, kantor) seperti menyelesaikan pekerjaan dua hari lebih cepat dari deadline, atau menyelenggarakan pagelaran seni dengan sukses.

Tujuan tersebut memiliki pergerakan dinamis dalam rentang yang luas mulai dari idak mungkin hingga pasti. Misalnya, sebagai mahasiswa kita ingin mengubah citra negative tentang Indonesia menjadi positif di mata dunia. Tujuan ini berada dalam rentang mental 'tidak mungkin' hingga 'pasti bisa'. Langkah selanjutnya, bagaimana menyempitkan dan menajamkan rentang ini?

Yang kita butuhkan adalah memfokuskan perhatian diri terhadap satu tujuan utama, jadikan tujuan itu sebagai sesuatu yang penting dan bermakna besar lalu bungkus dan patri kuat dalam harapan diri. Ketika kita telah mengukuhkan tujuan itu di tempat yang istimewa, elemen mental dasar lainlah yang selanjutnya mengambil alih. Kita melangkah ke willpower sebelum selanjutnya ke way power.

Willpower is the driving force in helpful thinking (Snyder, 1994)

Seberapa kuat keinginan diri kita untuk mewujudkan tujuan lah yang selanjutnya akan berbicara. Sebuah kotak mental dalam diri kita yang memuat keteguhan dan komitmen yang akan menolong kita untuk bergerak dengan arah efektif guna mewujudkan tujuan yang telah kita tentukan di awal.

Kita akan lebih mudah menggerakkan willpower ini apabila dalam alam kognitif kita mampu membayangkan, memahami secara jelas dan menghadirkan tujuan penting tersebut. Willpower merepresentasikan kemampuan kognitif kita dalam menghasilkan inisiatif dan aktivitas yang berkesinambungan dalam meraih tujuan.

Pada kasus di atas, kita perlu merumuskan dengan jelas dan konkret apa yang dimaksud dengan mengubah citra Indonesia menjadi positif di dunia. Variabel lain yang menjadi pertimbangan penting di sini adalah kita sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa, apa yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan/keinginan itu? Misalnya; memenangkan lomba penelitian mahasiswa psikologi tingkat internasional.

Pengalaman kesuksesan di masa lalu memang salah satu dasar kuat dalam mental dasar ini, namun hal ini bukanlah kartu mati untuk memulai.

Way power reflects the mental plans or road maps that guide hopeful thought (Snyder, 1994)

Tidak hanya keinginan mewujudkan tujuan/keinginan, namun bagaimana mencapainya juga tidak bisa ditinggalkan. Way power sebagai kemampuan mental untuk menemukan dan menciptakan jalan yang efektif.

Sekali lagi, kejelasan akan tujuan sangat membantu way power ini mengeluarkan berbagai rencana dan solusi aksinya. Terkait dengan aktivitas produksi solusi, maka fleksibilitas memegang peranan krusial. "If you can't do it in one way, do it another way" menjadi motto yang memberi gambaran komprehensif.

Pada kasus tadi, setelah kita merumuskan tujuan jelas untuk memenangkan lomba penelitian mahasiswa psikologi tingkat internasional, maka langkah-langkah apa yang bisa ditempuh? Kemampuan kita untuk bermain di sini masih begitu luas, kita bisa membuat daftar seperti; melakukan penelitian sendiri, jika dirasa akan banyak menemui kesulitan, kita bisa mengembangkan dengan bekerjasama dengan lembaga peneliti nasional, bekerjasama dengan dosen, melakukan penelitian mandiri dengan teman satu kampus, melakukan pemilihan topic yang paling merepresentasikan Indonesia, mempelajari karakter lomba yang diadakan, dan lain sebagainya.

Kita telah membahas studi tentang harapan, mungkin mulai sedikit terbayang perbedaan dengan apa yang sering kita samakan (membuat bingung) yaitu optimis.


Optimis

The learned optimism approach suggests that optimist have a style of explaining events so they distance and circumscribe their failure (Snyder, 1994)

Ternyata optimis merupakan pola pikir tentang suatu kejadian yang menimpa seseorang, khususnya kejadian buruk. Ada tiga dimensi utama dalam optimis;

menempatkan kesalahan sebagai factor eksternal dari diri

mengevaluasi kesalahan dalam sudut pandang akan terus berlanjut atau tidak

memandang kesalahan hanya pada satu area dengan penjelasan spesifik daripada melihatnya secara menyeluruh seperti, adanya kemungkinan faktor yang terlihat tidak terkait namun bisa menjadi penyebab.

"Ya, saya memang perenang yang buruk, tapi kalian harus lihat kalau saya main basket deh" Sang optimis memberikan alasan eksternal untuk kejadian buruk sebagai penjelasannya, perbedaannya dengan sang pesimis adalah, pada sisi ekstrem yang berlawanan. Maka jika optimis melihat kejadian buruk sebagai kesalahan eksternal dari diri, pesimis melihatnya dari faktor internal (menyalahkan diri sendiri, misalnya), dan menarik atribusi kaku dan global.


Harapan, Optimis dan Pesimis
Pada kasus mahasiswa yang ingin mengubah citra negatif Indonesia menjadi positif di mata dunia. Individu yang memiliki harapan akan mengandalkan willpower, way power untuk mencapai tujuan (citra positif). Sementara individu optimis akan memandang citra negatif Indonesia sebagai akibat dari kondisi politik dunia yang sedang memanas karena perang Irak. Pada sisi lain lagi, orang pesimis akan berujar, "Yah, memang dari dulu, sampai kapan pun Indonesia selalu kalah dari negara lain"

Harapan adalah proses yang menghubungkan seseorang pada kesuksesan, hal ini yang membuat kegagalan menjadi samar atau tidak terlalu menajam, karena proses mental yang terjadi adalah membentuk jalinan untuk mencapai sesuatu, yaitu keberhasilan. Sementara optimis masih membawa tema kejadian buruk/ kegagalan.

Tidak jarang ada yang bercanda dengan mengatakan, "Optimis sih optimis, tapi realistis dong" Artinya, optimis belum merupakan satu proses jelas dalam memperbaiki kondisi negatif yang terjadi (misalnya) dan sudah pasti mewujudkan hasil nyata. Bagaimana pun juga, optimisme tanpa harapan, tidak akan jadi apa-apa; dan harapan tanpa gerak dan usaha, juga tidak mewujudkan apa-apa. Semua kembali pada gerak dan usaha

ANTARA OPTIMIS DAMN BERHARAP

Antara Optimis dan Berharap

Selama ini sebagian besar orang mengartikan harapan dan optimis sebagai dua tema yang sama, atau bisa saling menggantikan. Sebagian lagi menganggap bahwa harapan adalah bagian dari optimis atau sebaliknya.

Jadilah orang yang optimis, jangan pesimis, apakah ini berarti orang yang optimis memiliki harapan? Atau optimis itu sendiri berarti harapan, atau sebaliknya, orang yang memiliki harapan berarti optimis?

Berbicara tentang optimis juga menyeret satu tema lain yang hampir selalu mengikuti, yaitu pesimis. Namun, ketika kita bicara tentang harapan, pesimis tidak selalu mengikuti, berbeda jika membicarakan topik optimis, terma pesimis hampir dipastikan menjadi oposisi penegas.


Harapan

Hope is the sum of the mental willpower and way power that you have for your goal (Snyder, 1994)

Tiga elemen mental dasar dalam harapan, yaitu (1) tujuan (goal), (2) keinginan kuat (willpower), (3) jalan keluar (way power).

Goal is any objects, experiences or outcomes that we imagine and desire in our minds (Snyder, 1994)

Memiliki harapan berarti memiliki goal untuk diraih, dicapai, didapatkan. Tujuan inilah sebagai komponen penting utama dalam sebuah harapan. Sesuatu yang ingin kita dapatkan seperti sebuah rumah di tepi pegunungan, atau prestasi di tempat aktivitas (kampus, kantor) seperti menyelesaikan pekerjaan dua hari lebih cepat dari deadline, atau menyelenggarakan pagelaran seni dengan sukses.

Tujuan tersebut memiliki pergerakan dinamis dalam rentang yang luas mulai dari idak mungkin hingga pasti. Misalnya, sebagai mahasiswa kita ingin mengubah citra negative tentang Indonesia menjadi positif di mata dunia. Tujuan ini berada dalam rentang mental 'tidak mungkin' hingga 'pasti bisa'. Langkah selanjutnya, bagaimana menyempitkan dan menajamkan rentang ini?

Yang kita butuhkan adalah memfokuskan perhatian diri terhadap satu tujuan utama, jadikan tujuan itu sebagai sesuatu yang penting dan bermakna besar lalu bungkus dan patri kuat dalam harapan diri. Ketika kita telah mengukuhkan tujuan itu di tempat yang istimewa, elemen mental dasar lainlah yang selanjutnya mengambil alih. Kita melangkah ke willpower sebelum selanjutnya ke way power.

Willpower is the driving force in helpful thinking (Snyder, 1994)

Seberapa kuat keinginan diri kita untuk mewujudkan tujuan lah yang selanjutnya akan berbicara. Sebuah kotak mental dalam diri kita yang memuat keteguhan dan komitmen yang akan menolong kita untuk bergerak dengan arah efektif guna mewujudkan tujuan yang telah kita tentukan di awal.

Kita akan lebih mudah menggerakkan willpower ini apabila dalam alam kognitif kita mampu membayangkan, memahami secara jelas dan menghadirkan tujuan penting tersebut. Willpower merepresentasikan kemampuan kognitif kita dalam menghasilkan inisiatif dan aktivitas yang berkesinambungan dalam meraih tujuan.

Pada kasus di atas, kita perlu merumuskan dengan jelas dan konkret apa yang dimaksud dengan mengubah citra Indonesia menjadi positif di dunia. Variabel lain yang menjadi pertimbangan penting di sini adalah kita sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa, apa yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan/keinginan itu? Misalnya; memenangkan lomba penelitian mahasiswa psikologi tingkat internasional.

Pengalaman kesuksesan di masa lalu memang salah satu dasar kuat dalam mental dasar ini, namun hal ini bukanlah kartu mati untuk memulai.

Way power reflects the mental plans or road maps that guide hopeful thought (Snyder, 1994)

Tidak hanya keinginan mewujudkan tujuan/keinginan, namun bagaimana mencapainya juga tidak bisa ditinggalkan. Way power sebagai kemampuan mental untuk menemukan dan menciptakan jalan yang efektif.

Sekali lagi, kejelasan akan tujuan sangat membantu way power ini mengeluarkan berbagai rencana dan solusi aksinya. Terkait dengan aktivitas produksi solusi, maka fleksibilitas memegang peranan krusial. "If you can't do it in one way, do it another way" menjadi motto yang memberi gambaran komprehensif.

Pada kasus tadi, setelah kita merumuskan tujuan jelas untuk memenangkan lomba penelitian mahasiswa psikologi tingkat internasional, maka langkah-langkah apa yang bisa ditempuh? Kemampuan kita untuk bermain di sini masih begitu luas, kita bisa membuat daftar seperti; melakukan penelitian sendiri, jika dirasa akan banyak menemui kesulitan, kita bisa mengembangkan dengan bekerjasama dengan lembaga peneliti nasional, bekerjasama dengan dosen, melakukan penelitian mandiri dengan teman satu kampus, melakukan pemilihan topic yang paling merepresentasikan Indonesia, mempelajari karakter lomba yang diadakan, dan lain sebagainya.

Kita telah membahas studi tentang harapan, mungkin mulai sedikit terbayang perbedaan dengan apa yang sering kita samakan (membuat bingung) yaitu optimis.


Optimis

The learned optimism approach suggests that optimist have a style of explaining events so they distance and circumscribe their failure (Snyder, 1994)

Ternyata optimis merupakan pola pikir tentang suatu kejadian yang menimpa seseorang, khususnya kejadian buruk. Ada tiga dimensi utama dalam optimis;

menempatkan kesalahan sebagai factor eksternal dari diri

mengevaluasi kesalahan dalam sudut pandang akan terus berlanjut atau tidak

memandang kesalahan hanya pada satu area dengan penjelasan spesifik daripada melihatnya secara menyeluruh seperti, adanya kemungkinan faktor yang terlihat tidak terkait namun bisa menjadi penyebab.

"Ya, saya memang perenang yang buruk, tapi kalian harus lihat kalau saya main basket deh" Sang optimis memberikan alasan eksternal untuk kejadian buruk sebagai penjelasannya, perbedaannya dengan sang pesimis adalah, pada sisi ekstrem yang berlawanan. Maka jika optimis melihat kejadian buruk sebagai kesalahan eksternal dari diri, pesimis melihatnya dari faktor internal (menyalahkan diri sendiri, misalnya), dan menarik atribusi kaku dan global.


Harapan, Optimis dan Pesimis
Pada kasus mahasiswa yang ingin mengubah citra negatif Indonesia menjadi positif di mata dunia. Individu yang memiliki harapan akan mengandalkan willpower, way power untuk mencapai tujuan (citra positif). Sementara individu optimis akan memandang citra negatif Indonesia sebagai akibat dari kondisi politik dunia yang sedang memanas karena perang Irak. Pada sisi lain lagi, orang pesimis akan berujar, "Yah, memang dari dulu, sampai kapan pun Indonesia selalu kalah dari negara lain"

Harapan adalah proses yang menghubungkan seseorang pada kesuksesan, hal ini yang membuat kegagalan menjadi samar atau tidak terlalu menajam, karena proses mental yang terjadi adalah membentuk jalinan untuk mencapai sesuatu, yaitu keberhasilan. Sementara optimis masih membawa tema kejadian buruk/ kegagalan.

Tidak jarang ada yang bercanda dengan mengatakan, "Optimis sih optimis, tapi realistis dong" Artinya, optimis belum merupakan satu proses jelas dalam memperbaiki kondisi negatif yang terjadi (misalnya) dan sudah pasti mewujudkan hasil nyata. Bagaimana pun juga, optimisme tanpa harapan, tidak akan jadi apa-apa; dan harapan tanpa gerak dan usaha, juga tidak mewujudkan apa-apa. Semua kembali pada gerak dan usaha

SELAMAT MENUAIKAN IBADAH PUASA ROMADHON

Jumat, 02 Juli 2010

PSB

Ayo Daftar Sekolah .......................

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes